JUDUL: Pengetatan pengendalian perbatasan Jerman picu kekhawatiran soal efek domino
SHOOTING TIME: 15 September 2024
DATELINE: 18 September 2024
DURASI: 00:01:07
LOKASI: Berlin
KATEGORI: POLITIK
SHOTLIST:
1. STANDUP (Bahasa Inggris): CHU YI, Koresponden Xinhua
2. Berbagai cuplikan Jerman dan negara-negara tetangganya
3. SOUNDBITE (Bahasa Polandia): Pengemudi asal Polandia
STORYLINE:
STANDUP (Bahasa Inggris): CHU YI, Koresponden Xinhua
"Saat ini saya berdiri di area perbatasan yang menghubungkan Kehl di Jerman dengan Strasbourg di Prancis. Sejak 16 September, Jerman mengintensifkan kebijakan pengendalian perbatasan dengan sejumlah negara termasuk Prancis, Belgia, dan beberapa negara lain yang berbatasan dengan wilayahnya, yang dapat memengaruhi pergerakan bebas di Uni Eropa (UE) dan area Schengen."
Mulai Senin (16/9), Jerman memperluas pengendalian perbatasan sementara ke seluruh perbatasan darat untuk periode awal selama enam bulan.
Langkah ini menjadi pukulan berat bagi pergerakan bebas di seluruh perbatasan internal, yang merupakan elemen utama dalam Perjanjian Schengen.
Jerman mengumumkan keputusan untuk memperketat pemeriksaan di perbatasan pada 9 September, menyebut peningkatan kekhawatiran keamanan sebagai alasannya.
Serangkaian serangan mematikan baru-baru ini memicu debat publik mengenai imigrasi dan keamanan.
Lebih lanjut, kebijakan perbatasan yang keras dari Jerman merupakan dampak dari kegagalan UE untuk merancang respons yang kohesif dan efisien terhadap krisis pengungsi yang sedang terjadi.
Data resmi menunjukkan bahwa pembatasan yang lebih ketat oleh Jerman diperkirakan akan berdampak terhadap sekitar 240.000 komuter lintas perbatasan.
SOUNDBITE (Bahasa Polandia): Pengemudi asal Polandia
"Saya tinggal di Prancis. Saya hanya ingin melihat apakah saya dapat berkendara pulang dan melihat berapa lama saya harus menunggu di perbatasan. Perjalanan saya jauh, karena saya harus menempuh perjalanan selama 15 jam, ditambah lima jam untuk menunggu di sini, dan mungkin lima jam lagi di perbatasan Jerman-Prancis."
Koresponden Kantor Berita Xinhua melaporkan dari Berlin.
(XHTV)